rasa damai dan senyum yang tersungging di bibirku sirna, ketika ada rasa yang menarikku menjauhi apa yang kusebut tenang. ya, perasaan yang kugadang-gadangkan saat ini menjadi sesuatu yang entah, sulit kudeskripsikan hanya saja menimbulkan ketidaktenangan. bagai spektrum dengan nilai 10 untuk tenang dan 0 untuk tidak tenang, aku merasa berada di titik 0. minus bahkan.
hingga saat ini aku tak tahu ini apa, hanya sekarang aku membencinya. aku menepis tak mungkin menjangkaunya secara fisik maupun .... rohani?
aku tak tau apa yang aku pikirkan. apa benar aku jatuh cinta pada sosok yang sudah jelas jauh secara fisik dan segala-gala gala galanya. atau ini tidak sampai tahap jatuh cinta karena rasionalisasiku masih ada?
jika benar aku jatuh cinta, bagaimana bisa? fisiknya? imannya? ya, ia beriman untuk Tuhan yang berbeda. sudah cukup kan justifikasi untuk tidak melanjutkannya?
baik, aku sadar sepertinya aku benar jatuh cinta. dan overthinking-ku memperburuk keadaan, karena aku merasa perasaan yang tidak timbul di suatu momen yang pantas untuk timbul pasti bukan suatu kebetulan
Sadar, baru saja kau bilang tentang hidup dengan ekspektasi rendah karena yang membuat sakit hati adalah ekspektasi. So just live that way, sist.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar