Selasa, 28 Maret 2017

ceritaku masih sama sejak dirimu pergi
angin siang hari yang menusuk tulang
ranting kering menjulang menjemput kuncup
rintik berganti terang
pendingin jadi penghangat
namun yang terpenting
hatiku masih sama sejak dirimu pergi
tahukah kamu kuselalu menunggu hari ketika kau berkata padaku
bahwa aku kan baik saja
di sana
tahukah kamu kuselalu menunggu hari ketika kau berkata padaku
bahwa aku kan kau nantikan
di sini
tahukah kamu kuselalu menunggu hari ketika kau menanyakan
kabarku
dari sana
tahukah kamu kuselalu menunggu hari ketika dengan mudahnya aku melanjutkan
percakapan kita
dari sini

DS306-火曜日 2017/03/28

Jumat, 24 Maret 2017

cerita lain dari hembusan pendingin udara
lucunya ia tak dingin lagi
hembus hangatnya melingkupi kami yang sekarang kedinginan
ya kami, sebuah raga dan perasaan
kini jarak dan waktunya berbeda, namun raga, perasaan, dan sifatnya masih sama
bodoh
ia masih bodoh
bisakah sekali saja
kumohon
bodoh
tak berguna
ia kira bisa pergi
namun jarakpun tak mengajaknya untuk pergi
namun waktupun tak menyuruhnya untuk sendiri

Haha, merasa bodoh. Memperumit keadaan sendiri. Bodoh sukanya mempersulit diri sendiri. Tapi bagaimana? perasaan menang. haruskah kukutuk diriku yang feeling ini dan berusaha keras menjadi thinking. menurutku lebih buruk dari jadi bodoh. membohongi diri sendiri. semakin bodoh. Ia disana. entah bersama aspeknya. atau entah bersama waw nya. hahaha. ingin tertawa di atas kesedihan diri sendiri. kadang memang fantasi sendiri yang terlalu menjadikan terjebak dalam kenyataan kelam. ah aku bingung harus apa. semoga mesin waktu 2 jam di sana dimanfaatkan dengan baik ya!

DS306, 金曜日 2017/03/24
yang berharap bisa kembali ke 2 jam yang lalu, bersamamu

Selasa, 07 Maret 2017

Desir tak berakhir
mengalir
Tolong dengarkan aku
Apa sepi yang memaksa mengisi
Apa sendiri memang ambisi
Aku terengkuh pada bumi
tak bisa apa lagi
Apa memang tak berguna
Apa memang tak perlu ada
Tolong pergi
Hingga akhirnya aku ingin sendiri
tolong pergi
karena hanya menggores hati
tolong pergi
jika memang tidak berniat mengisi

Kamis, 02 Maret 2017

langit bercerita diantara hembus debu tak berwarna yang menyamarkan
mata
desah sana sini terdengar dari satu getaran yang sama
ah kubenci
apa harus terus begini
samar cerita turun dari langit bersama tetes air yang menyebar bau
semerbak
lagi lagi kumasih benci
apa terus terusan hidup ada untuk menyendiri
mengelabui perasaan oleh pikiran yang tak tau diri
sampai kapan seperti ini
bahkan yang terikat hati pun tak memikirkan teman sendiri
ah apa hidup harus seperti ini
cerita hariku sudah banyak
dan selalu saja berakhir kalah telak
apa harus mengalah lagi
padahal berusaha mencari kebahagiaan diri
apa harus menyerah secepat ini
padahal hanya tidak ingin sendiri
hmm bukan, semuanya lebih dari ini
hanya saja lagi lagi terturup oleh debu tak berwarna, aroma semerbak, pikiran tak tau diri, dan yang tidak memikirkan teman sendiri.

entah emosi apa yang harus kutuliskan saat ini. Benci, bukan disebut benci. Sedih, hmm tidak juga. Ikhlas, iya tapi tidak. Mencoba mengalah, sampai kapan terus mengalah, dan dengan orang yang sama? apa sebanding itukah sehingga selalu bisa dipersaingkan? perbandingan hanya dapat dilakukan pada hal yang memiliki kesamaan dan tidak ada manusia yang sama. pada akhirnya aku masih percaya kalau aku dan nya tak bisa disandingkan. lantas mengapa selalu....dia? beralih darinya yang (dipandang) sempurna, huft mengatakan dipandangpun aku tak kuasa. entah kecamuk pikiran yang ingin mengiyakan kesempurnaannya namun ada saja sudut yang mengusik untuk berkata tak ada yang sempurna. alihan ini tertuju pada sakit hati yang tidak terlupakan. easy to forgive but not to forget huh? hahaha bahkan bisa tertawa diatas penderitaan sendiri. bukan, mungkin bukan menertawakan tp mencoba menghibur diri sendiri karena sudah terlalu sering menghibur diri oleh diri sendiri.