langit bercerita diantara hembus debu tak berwarna yang menyamarkan
mata
desah sana sini terdengar dari satu getaran yang sama
ah kubenci
apa harus terus begini
samar cerita turun dari langit bersama tetes air yang menyebar bau
semerbak
lagi lagi kumasih benci
apa terus terusan hidup ada untuk menyendiri
mengelabui perasaan oleh pikiran yang tak tau diri
sampai kapan seperti ini
bahkan yang terikat hati pun tak memikirkan teman sendiri
ah apa hidup harus seperti ini
cerita hariku sudah banyak
dan selalu saja berakhir kalah telak
apa harus mengalah lagi
padahal berusaha mencari kebahagiaan diri
apa harus menyerah secepat ini
padahal hanya tidak ingin sendiri
hmm bukan, semuanya lebih dari ini
hanya saja lagi lagi terturup oleh debu tak berwarna, aroma semerbak, pikiran tak tau diri, dan yang tidak memikirkan teman sendiri.
entah emosi apa yang harus kutuliskan saat ini. Benci, bukan disebut benci. Sedih, hmm tidak juga. Ikhlas, iya tapi tidak. Mencoba mengalah, sampai kapan terus mengalah, dan dengan orang yang sama? apa sebanding itukah sehingga selalu bisa dipersaingkan? perbandingan hanya dapat dilakukan pada hal yang memiliki kesamaan dan tidak ada manusia yang sama. pada akhirnya aku masih percaya kalau aku dan nya tak bisa disandingkan. lantas mengapa selalu....dia? beralih darinya yang (dipandang) sempurna, huft mengatakan dipandangpun aku tak kuasa. entah kecamuk pikiran yang ingin mengiyakan kesempurnaannya namun ada saja sudut yang mengusik untuk berkata tak ada yang sempurna. alihan ini tertuju pada sakit hati yang tidak terlupakan. easy to forgive but not to forget huh? hahaha bahkan bisa tertawa diatas penderitaan sendiri. bukan, mungkin bukan menertawakan tp mencoba menghibur diri sendiri karena sudah terlalu sering menghibur diri oleh diri sendiri.