Jumat, 29 Juli 2016

(kembali) (lagi)

(lagi lagi) berada di tengah bunyi detak penunjuk waktu dan keyboard di depanku yang kupaksa untuk berbunyi. sebenarnya ini cukup larut untuk seseorang yang memiliki acara besar keesokan harinya namun tak apa, itu hanya acara besar untuk sebagian orang, terlebih bagi mereka yang sudah memiliki baju panjang tanpa lengan berwarna biru donker lengkap dengan topi bernama toga.
(kembali) (lagi) pada ceritaku. terdengar egois namun memang dari titik itulah aku memulai tulisan ini. aku akan menulis (kembali) tentang perasaanku (lagi). aku merindu (lagi). sampai sampai membuatku berpikir apa hanya rindu perasaan yang aku punya.
aku merasa bodoh dengan perasaan rindu ini. melihat apapun selalu mengingkatkan pada hal yang aku rindukan. ya, selalu. apa orang rindu memang sebodoh ini? atau justru sepandai itu karena imajinasinya selalu saja ada untuk mengaitkan dengan dia yang dirindukan?
singkat saja aku merindukannya (lagi). terserah siapa yang akan aku tafsirkan sendiri dengan kata 'nya' saat nantinya (kembali) membaca tulisan ini (lagi), namun aku yakin aku akan tetap mengingatnya, seperti yang sudah kubilang mengingat dan merindukan hal seperti ini adalah keahlianku.
malam ini jemariku seperti tertarik keyboard untuk mengetikkan namanya pada suatu tempat yang cukup mudah mengakses tentangnya. dan disanalah aku. bernostalgia dengan 'kicauan'nya. bernostalgia dengan pada yang 'telah' dia pikirkan dan rasakan. Hai, pikirku. apakah pikiran dan perasaan yang telah dia tuliskan seperti yang aku pikirkan. apakah tafsiranku tentang semua yang ia kicaukan benar. dan pertanyaan itu menjalar kesesuatu yang lebih bodoh, apakah jalan pikirmu masih sama. apakah perbedaan kita masih ada. hingga pada titik terbodoh, apakah ada sebersit di pikiranmu mengingkatku seperti kumengingatmu. bodoh. apa kataku. aku jadi bodoh.
sudahlah, aku menyerah malam ini. namun apapun yang terjadi pada aku, kamu, atau bahkan kita nantinya, kutak akan memaksa. kuhanya tahu rinduku akan tetap di tempat yang sama.

Bandung. 28-29 Juli 2016

Selasa, 10 Mei 2016

mengingat hal indah yang lalu
memanglah hal yang menyenangkan
namun merindukannya
sial,
sayangnya aku ahli dalam hal itu

10.05

halo
apa pernah kamu tersenyum dalam diam
atau menangis dalam diam
bukan,
sesungguhnya itu bukan diam
karena sesungguhnya kamu tidak pernah diam
otak kamu tidak pernah diam untuk sekadar mengingat
hati kamu tidak pernah diam untuk sekadar merasa
dan
di saat inilah otak dan hatiku tidak diam untuk sekedar mengingat dan merasa
tentang
kamu

See you when I see you, Semarang atau...Cepu?
Dari, Bandung 10.05.2016

Minggu, 21 Februari 2016

19.38

Kalau perasaan orang bisa muncul di jidat mereka masing masing, sudah dapat dipastikan kata ini yang akan muncul di jidatku
Rindu
Dan Sabarnya Afgan memperburuk keadaan, ehm mungkin bukan memperburuk, hanya memperjelas keadaan
Malam ini dingin, sepertinya angin sisa tangisan langit masih setia berhembus
Sama setianya dengan perasaan yang masih melekat di hati ini
Haha bodoh...
Mungkin benar apa kata orang, kadang perasaan bikin orang jadi bodoh
Tidak rasional
Kali ini aku akan melakukan pembelaan, membela karena menurutku tentulah tidak rasional karena perasaan bukan dipikirkan melainkan dirasakan
atau membela karena aku salah satu yang sedang merasakannya sekarang
Terimakasih padamu yang dengan setia meletakkan rasa ini dihatiku
Selamat malam, rinduku

Bandung 21.02.16